Kabupaten Boalemo
Rabu, 2 Juli 2003
Boalemo—Kompas---EMBUSAN angin laut segera menerpa wajah dan mengibarkan rambut begitu memasuki ruang terbuka dalam sebuah pondok terapung di Desa Pentadu Timur, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Udara panas yang menyengat kulit saat memasuki pondok yang berfungsi sebagai rumah makan khusus ikan bakar mendadak sirna. Suhu dalam ruangan disejukkan oleh angin laut yang mengisi seluruh ruang. Debur ombak Pantai Tilamuta, Gorontalo yang terhubung dengan perairan Teluk Tomini menjadi musik indah mengiringi lidah merasakan kelezatan ikan baronang bakar.

KABUPATEN ini memiliki beragam wisata alam. Itu tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah yang berbatasan dengan Laut Sulawesi di sebelah utara dan Teluk Tomini di sebelah selatan. Di Kecamatan Tilamuta saja terdapat tiga objek tujuan wisata: Pantai Boalemo Indah di Desa Bolihutuo, Pulau Pasir Putih di depan Desa Bajo, dan Air Terjun Ayuhulalo di Desa Ayuhulalo. Kabupaten ini memiliki dua taman laut: Taman Laut Pulau Bitila di Desa Pentadu, Kecamatan Paguat dan Taman Laut Pulau Limba di Desa Limbatihu, Kecamatan Paguyaman.

Selain wisata alam, daerah ini memiliki wisata budaya. Jenis wisata yang diunggulkan adalah perkampungan suku Bajo dengan bangunan rumah di atas air laut di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta. Wisata budaya lain adalah Tari Sabe, merupakan atraksi alami berupa tarian di atas bara api dengan kekuatan magis. Tarian ini bisa dinikmati di Desa Ayuhulalo yang juga berada di Kecamatan Tilamuta.

Pertanian merupakan sektor unggulan kabupaten dalam pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB). Dalam PDRB Boalemo tahun 2002- sebelum kabupaten ini mengalami pemekaran dengan Kabupaten Pohuwato pada 25 Februari 2003-lapangan usaha pertanian menjadi mata pencarian lebih dari separo penduduk. Aktivitas ekonomi dari kegiatan agraris ini memberikan tidak kurang Rp 237 miliar atau 37,6 persen dari total PDRB yang berjumlah Rp 633,6 miliar. Berdasarkan data yang masih menggabungkan Boalemo dengan Pohuwato, terlihat kontribusi terbesar diberikan subsektor pertanian tanaman pangan, dengan Rp 102,9 miliar.

Catatan perolehan nilai dari kegiatan di subsektor pertanian itu akan berubah bila data Kabupaten Boalemo dipisahkan dari data Kabupaten Pohowatu. Lima kecamatan yang sebelumnya masuk wilayah Boalemo, seperti Kecamatan Popayatu, Lemito, Randangan, Marisa, dan Paguat kini menjadi bagian Kabupaten Pohuwato. Pada kelima kecamatan itu lahan untuk padi, jagung, dan palawija lebih luas dibandingkankan lahan komoditas yang sama di Boalemo. Sejak pemisahan itu, Boalemo tidak bisa terlalu mengandalkan kegiatan ekonomi di subsektor pertanian tanaman pangan. Guna meningkatkan pendapatan daerah, selain dari pariwisata, Boalemo menjadikan kegiatan ekonomi di bidang perikanan dan kelautan sebagai sektor unggulan kabupaten. Ini tidak lepas dari kondisi geografis Boalemo yang memiliki luas perairan teritorial kurang lebih 7.400 kilometer persegi dengan garis pantai 320 kilometer. Perairan yang dimiliki Boalemo menyimpan berbagai jenis ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti tuna, ikan layang, kerapu tikus.

Teluk Tomini yang menjadi batas wilayah di bagian selatan mengandung kekayaan laut yang siap digali. Data pada Subdinas Perikanan dan Kelautan Boalemo menyebutkan potensi perikanan tangkap Boalemo sekitar 10.320 ton per tahun. Potensi perikanan budidaya laut sekitar 2.300 ton. Statistik perikanan Teluk Tomini memperlihatkan daerah ini memiliki potensi perikanan tangkap 587.670 ton.

Menyadari potensi perikanan yang dimiliki, Desa Taulo di Kecamatan Mananggu dipilih sebagai lokasi utama untuk etalase perikanan, dengan fungsi utama sebagai tempat penampungan ikan. Ikan yang ditampung di sini tidak hanya ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Boalemo atau nelayan di Provinsi Gorontalo, melainkan juga hasil-hasil laut dari kawasan timur Indonesia. TPI yang menyelenggarakan jual beli ikan dengan sistem lelang juga menjadi tempat nelayan Bitung menjual ikan hasil tangkapan mereka. Selain dengan sistem lelang, keperluan nelayan akan air bersih dan es untuk pengawetan diupayakan tercukupi.

Untuk memberdayakan masyarakat pesisir di Kecamatan Dulupi dan Mananggu yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan, pada tahun 2002 Pemerintah Pusat mengucurkan tidak kurang Rp 950 juta melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Penyaluran dana kepada nelayan dalam bentuk motor tempel, rumpon, alat tangkap, kapal penampung, serta BBM.

Boalemo memiliki kiat sendiri agar produksi nelayan Boalemo tidak kalah bersaing dengan nelayan-nelayan asing yang dilengkapi peralatan modern dalam mencari ikan, terutama ikan tuna. Harga pemasaran ikan tuna segar berkisar Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Bila beruntung, nelayan bisa meraih penghasilan Rp 1 juta per hari.

Cara yang dilakukan Boalemo adalah menciptidakan Armada Semut. Nelayan yang dibuat berkelompok turun bersamaan ke laut. Satu kelompok nelayan terdiri dari 20-40 unit perahu motor berukuran 5,5 PK yang dilengkapi alat pancing ulur. Setiap kelompok memiliki satu rompong, semacam rakit bambu panjang tempat berkumpulnya ikan-ikan. Rompong ditempatkan di perairan laut Teluk Tomini pada jarak 5 sampai 10 mil dari pesisir. Dari kejauhan, perahu-perahu nelayan yang mengelilingi rompong terlihat seperti semut mengelilingi sesuatu. Dari situlah nama armada semut disematkan.

Dengan sistem armada semut, nelayan tetap di tengah laut dan segala kebutuhan mereka seperti makanan, BBM dicukupi melalui kapal Pamo. Kapal Pamo berkekuatan 3 hingga 5 gross ton. Bila satu kapal yang bertugas mengambil ikan hasil tangkapan nelayan membawa ikan hasil tangkapan ke tempat Pelelangan Ikan di Desa Tabulo, satu kapal lain mengantar kebutuhan nelayan. Dengan cara seperti ini nelayan tidak harus bolak-balik ke darat mengantar ikan dan mengambil bahan bakar atau makanan, yang selain menghabiskan waktu juga menguras tenaga. B.E JULIANERY/Litbang Kompas

Menggantungkan Diri kepada Jagung
Rabu, 2 Juli 2003
Boalemo—Kompas---BERBUKIT-bukit dan berlereng-lereng. Topografi khas inilah yang berkesan saat pertama kali memasuki kawasan Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Seperti, misalnya, pada saat Kompas memasuki Desa Polohungo, Kecamatan Dulupi, Boalemo, beberapa waktu lalu. Yang tampak di kiri-kanan jalan yang berliku-liku hanyalah hamparan berhektar-hektar lahan tanaman jagung berwarna merah kekuning-kuningan siap panen.

Tidak salah jika Boalemo selalu diidentikkan dengan tanaman jagung. Pasalnya, jagung menjadi salah satu prioritas unggulan komoditas tanaman pangan yang dikembangkan masyarakat tani dengan teknologi seadanya. Meskipun diolah dan dikembangkan dengan teknologi sederhana, namun hasilnya tidak bisa dipandang remeh.

Kondisi tanaman pada bulan Agustus 2002 lalu saja mencapai sekitar 70 persen panen dengan produksi bervariasi, tergantung varietas yang digunakan. Jadwal tanam dan kondisi agroklimat setempat, khusus untuk varietas jagung hibrida, produksi rata-rata meningkat, yakni antara 4-6 ton per hektar. Pada tahun 2000 saja, luas panen tanaman jagung 14.538 hektar dengan produktivitas 3,2 ton per hektar dan total produksi 46.172 ton. Sementara itu, pada tahun 2001 luas panen 18.973 hektar dengan produktivitas 3,8 ton per hektar dan total produksi 73.032 ton.

Bukan hanya itu, komoditas jagung bukanlah komoditas yang hanya dijual di dalam negeri, tetetapi pemasarannya telah mencapai Malaysia. Pada tahun 1998, volumenya 25.324,5 ton dengan nilai devisa 2.183.671 dollar AS. Namun sayangnya, pada tahun 1999 menurun menjadi sekitar 7.920 ton dengan devisa 644.989 dollar AS. Begitu pula tahun 2000, volumenya menurun menjadi 3.036 ton dengan nilai devisa 279.404 dollar AS.

Meskipun menurun, Boalemo tetap dipilih menjadi Kawasan Rintisan Pengembangan Agropolitan, yang pusat kawasannya ditetapkan di Kecamatan Randangan. Pelaksanaan Program Agropolitan jagung di Boalemo pada tahun 2002 lalu mencapai luas tanam seluruhnya 7.932,25 hektar. Khusus pada tahun 2003, Boalemo memiliki target luas tanam 10.150 hektar, luas panen 10.072 hektar, produktivitas 19,2 ton per hektar, dan produksi 43.941,9 ton. Sementara itu, luas lahan yang dapat dikembangkan untuk tanaman jagung di Boalemo diperkirakan 54.185 hektar.

Gubernur Provinsi Gorontalo, Ir Fadel Muhammad kepada Kompas menyatidakan sejak Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertanian mencanangkan Program Agropolitan pada tanggal 8 Maret 2002 lalu, Boalemo akan dibangun menjadi daerah agropolitan berbasis tanaman jagung dan ternak sapi. Komoditas jagung saat ini baru dimanfaatkan biji jagungnya saja, bagian jagung lainnya dibuang sebagai limbah. Dengan teknologi yang ada, kata Fadel Muhammad, limbah-limbah jagung ini akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Produksi jagung yang selama ini selalu dipasarkan ke luar daerah pada masa mendatang akan diupayakan menjadi bahan baku pakan ternak olahan. "Akan tetapi, kita menyadari masih banyak tantangan dan hambatan yang ditemui baik pengaruh alam, keterbatasan SDM petani, permodalan, sikap apriori masyarakat, dan hambatan teknis lainnya," ujarnya.

BOALEMO yang semula termasuk kabupaten terluas di Provinsi Gorontalo, yakni 6.739,27 kilometer persegi, kini hanya memiliki luas 517,36 kilometer persegi dan terdiri dari lima kecamatan yakni Paguyaman, Wonosari, Dulupi, Tilamuta, dan Mananggu. Pasalnya, sesuai Undang-Undang No 6 Tahun 2003 tertanggal 25 Februari 2003, wilayah Boalemo dinilai terlalu luas sehingga harus dipecah menjadi dua yakni Boalemo dan Pohuwato (luas wilayah 4.244,31 kilometer persegi) yang juga memiliki lima kecamatan yakni Popayato, Lemito, Marisa, Randangan, dan Paguat.

Bupati Boalemo Iwan Bokings kepada Kompas beberapa waktu lalu menyatidakan potensi pertanian dan perkebunan di Boalemo termasuk tinggi. Pasalnya, jumlah penduduk Boalemo (sebelum dimekarkan) yang mencapai 199.120 jiwa itu sebagian besar warganya, yakni 55.800 (28,02 persen) jiwa berprofesi sebagai petani.

Selain itu, Boalemo (sebelum dimekarkan) memiliki luas lahan sawah 5.643 hektar. Yang sudah diolah 3.921 hektar, sementara lahan kering 133.591 hektar. Pemanfaatannya secara rinci adalah untuk perkebunan 50.053 hektar, tegalan 21.729 hektar, ladang 10.747 hektar, dan pekarangan 9.851 hektar. Jadi, total pemanfaatan 92.380 hektar.

Dari luas areal yang dimanfaatkan tersebut, yang digunakan untuk tanaman jagung baru mencapai 10.000-15.000 hektar dari potensi sekitar 54.185 hektar yang dapat ditanami jagung, atau baru mencapai 30 persen.

Meskipun dikenal sebagai daerah penghasil jagung, persentase penggunaan benih unggul hibrida masih cukup rendah. Penggunaan varietas lokal masih dominan dengan jenis varietas motor, pulo, dan jenis unggul komposit, seperti, kalingga, arjuna, dan lainnya. Produktivitas dengan varietas lokal masih rendah, hanya sekitar 2-2,5 ton per hektar. Penggunaan pupuk pada tanaman jagung juga masih rendah. Masalah lainnya adalah harga jual jagung yang masih rendah, yakni sekitar Rp 600-700 per kilogram.

Kendala yang kerap ditemukan di lapangan, kata Bokings, antara lain terjadinya serangan penyakit bulai terhadap sekitar 20 persen dari keseluruhan lahan yang ditanami jagung. Selain itu, tanaman jagung dengan masa tanam akhir Mei lalu, sekitar 15 persen gagal akibat kekeringan. Harga jual di tingkat petani juga masih sangat rendah dan cenderung tidak stabil, berkisar Rp 600-700 per kilogram. "Ini jelas tidak sebanding dengan kerja keras petani," ujar Iwan Bokings.

Namun, berapa pun hasil tanaman jagung yang diproduksi, jagung tetap merupakan komoditas unggulan yang menjadi sandaran hidup utama masyarakat Boalemo. (Luki Aulia)